Latest Entries »

1. Perilaku Konsumen

Perilaku Konsumen adalah perilaku yang konsumen tunjukkan dalam mencari, menukar, menggunakan, menilai, mengatur barang atau jasa yang mereka anggap akan memuaskan kebutuhan mereka. Perilaku permintaan konsumen terhadap barang dan jasa akan dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya:

– pendapatan,

– selera konsumen, dan

– harga barang, disaat kondisi yang lain tidak berubah (ceteris paribus).

Perilaku konsumen ini didasarkan pada Teori Perilaku Konsumen yang menjelaskan bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya, dapat membeli berbagai barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Ada 2 pendekatan untuk mempelajari perilaku konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang:

1. Pendekatan Kardinal/Marginal Utility

2. Pendekatan Ordinal / Analisis Kurva Indiverence

Utility adalah rasa kesenangan atau kepuasan yang muncul dari konsumsi, ini merupakan kemampuan memuaskan keinginan dari barang, jasa dan aktivitas. Tujuan konsumen adalah memaksimalkan utilitas dengan batasan berupa pendapatan dan harga yang bersangkutan.

1.1 Pendekatan

1.1.1 Perilaku Konsumen Dengan Pendekatan Kardinal

Kepuasan seorang konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang dapat diukur dengan satuan kepuasan (misalnya mata uang). Setiap tambahan satu unit barang yang dikonsumsi akan menambash kepuasan yang diperoleh konsumen tersebut dalam jumlah tertentu.

Asumsi yang berlaku :

 Bahwa kepuasan seseorang tidak hanya dapat diperbandingkan, akan tetapi juga dapat diukur. Pengukuran kepuasan diukur dengan satuan “Util”.

 Marginal Utility of money constant dan Marginal Utility barang-barang konsumsi menurun, hal ini menganut Hukum Gossen I (Law of Deminishing Marginal Utility ) yaitu semakin banyak satuan barang yang dikonsumsi oleh konsumen maka semakin kecil tambahan/ marginal kepuasan yang diperoleh konsumen atau bahkan nol / negatif.

 Konsumen akan memaksimumkan kepuasannya dengan tunduk pada kendala anggaran mereka.

 Kepuasan total (Total Utility) mempunyai sifat aditive ( penjumlahan unit kepuasan yang diperoleh dari masing-masing barang yang dikonsumsi)

1.1.2 Perilaku Konsumen Dengan Pendekatan Kurva Indiferen / Ordinal

Menganggap kepuasan konsumen tidak dapat dikuantitatifkan,hanya analisis deskritif. Persamaan cardinal dan ordinal yaitu sama-sama menjelaskan tindakan konsumen dalam mengkonsumsi barang-barang yang harganya tertentu dengan pendapatan konsumen yang tertentu pula agar konsumen mencapai tujuannya (maximum utility) .

Pendekatan ini mempunyai asumsi :

 Rationality ; konsumen diasumsikan rasional artinya ia memaksimalkan utility dengan pendapatan pada harga pasar tertentu. Dan konsumen dianggap mempunyai pengetahuan sempurna mengenai informasi pasar

 Utility adalah bersifat ordinal artinya konsumen cukup memberikan rangking atau peringkat kombinasi mana saja yang ia sukai. Dengan demikian, konsumen tidak perlu memberikan utils atau satuan kepuassan terhadap barang yang dikonsumsi.

 Menganut hukum Deminishing Marginal Rate of Substitution artinya bila konsumen menaikkan konsumsi barang yang satu akan menyebabkan penurunan konsumsi barang yang lain dan dapat digambarkan dengan kurva indeferen.

 Total Utility yang diperoleh konsumen tergantung dari jumlah barang yang dikonsumsikan.

 Bersifat consistency dan transivity of choice artinya bila , A>B, B>C maka barang A lebih disukai dari B dan barang B lebih disukai dari C kesimpulannya bahwa A>B>C maka A>C.

Perbedaan Pendekatan Kardinal Dan Pendekatan Ordinal :

Pandangan antara besarnya utility menganggap bahwa besarnya utiliti dapat dinyatakan dalam bilangan/angka. Sedangkan analisis ordinal besarnya utility dapat dinyatakan dalaml bilangan/angka.

Analisis cardinal mengunakan alat analisis yang dinamakan marginal utiliy(pendekatan marginal). Sedangkan analisis ordinal menggunakan analisis indifferent curve atau kurva kepuasan sama .

Kurva Idiverens

Adalah kurva yang menghubungkan titik – titik berbagai kombinasi antara 2 barang yang dapat memberikan kepuasan yang sama bagi seorang konsumen.

Ciri-ciri kurva indiferens

 Semakin ke kanan atas (menjauhi titik origin), semakin tinggi tingkat kepuasannya

 Kurva Indiferens tidak berpotongan satu sama lain.

 Berslope negatif.

 Cembung terhadap titik origin.

Budget Line (Garis Anggaran)

 Adalah garis yang menunjukkan jumlah barang yang dapat dibeli dengan sejumlah pendapatan atau anggaran tertentu, pada tingkat harga tertentu.

 Konsumen hanya mampu membeli sejumlah barang yang terletak pada atau sebelah kiri garis anggaran.

 Persamaan garis anggaran :

I = X . Px + Y . Py

I = Anggaran

Px = harga barang X

Py = harga barang Y

Seorang konsumen akan memilih sekelompok barang yang memaksimumkan kepuasannya dengan tunduk kepada kendala anggaran yang ada.

Sekelompok barang yang memberikan tingkat kepuasan tertinggi terjadi pada saat kurva indiferens tertinggi bersinggungan dengan garis anggaran

1.2 Konsep Elastisitas

Elastisitas merupakan salah satu konsep penting untuk memahami beraga, permasalahan di bidang ekonomi. Konsep elastisitas sering dipakai sebagai dasar analisis ekonomi, seperti dalam menganalisis permintaan, penawaran, penerimaan pajak, maupun distribusi kemakmuran.

Elastisitas dapat mengukut seberapa besar perubahan suatu variabel terhadap perubahan variabel lain. Sebagai contoh, elastisitas Y terhadap X mengukur berapa persen perubahan Y karena perubahan X sebesar 1%.

Elastisitas Y terhadap X = % perubahan Y / % perubahan X

1.2.1 Elastisitas Penghasilan / Pendapatan (Income Elasticity of Demand)

Permintaan (pembelian) suatu barang atau jasa oleh konsumen dipengaruhi oleh perubahan penghasilan consumen yang bersangkutan baik dlm pengertian nominal maupun riil. Elastisitas penghasilan adalah suatu konsep untuk mengukur derajat respons perubahan permintaan terhadap adanya perubahan penghasilan/pendapatan. Dalam kasus sederhana permintaan dapat dinotasikan sebagai berikut:

Q = f (P,I)

Keterangan :

Q: fungsi permintaan

P : tingkat harga

I: Penghasilan konsumen

Pada adasarnya terdapat 3 macam elastisitas penghasilan, yaitu :

1. Elastisitas penghasilan yang bernilai positif :

a. Elastisitas penghasilan uniler, yaitu ketika peningkatan dalam penghasilan direspon oleh konsumen dengan peningkatan permintaan secara proporsional. Perubahan permintaan yang positif akan memberikan elastisitas penghasilan yang positif pula. Dalam hal ini elastisitas sama dengan satu (E=1).

b. Elastisitas penghasilan inelastis, yaitu perubahan penghasilan sebesar 1% menyebabkan perubahan permintaan kurang dari 1%. Secara matematis, koefisien elastis penghasilan inelastis bernilai kurang dari 1 tetapi positif (0<E1).

2. Elastisitas penghasilan bernilai negatif. Hal ini berarti behwa kenaikan jumlah penghasilan justru mengakibatkan permintaan terhadap suatu barang menurun.

3. Elastisitas penghasilan bernilai nol. Ketika penghasilan meningkat, jumalah barang yang diminta tidak mengalami perubahan. Berapa pun perubahan penghasilan tidak akan merubah permintaan (konsumsi) barang tersebut.

Berdasarkan besarnya koefisien elastisitas penghasilan, suatu barang dapat dikelompokkan ke dalam barang mewah, barang normal, atau barang inferior.

1.2.2 Elastisitas Silang (Cross Elasticity)

Elastisitas silang menunjukkan hubungan antara barang yang diminta terhadap perubahan harga barang lain yang mempunyai hubungan dengan barang tersebut. Hubungan tersebut dapat bersifat pengganti, dapat pula bersifat pelengkap.

Terdapat tiga macam respons perubahan permintaan suatu barang(misal barang A) karena perubahan harga barang lain (barang B),yaitu: positif,negatif, dan nol.

1. Elasitisitas silang positif. Peningkatan harga barang A menyebabkan peningkatan jumlah permintaan barang B. Sebagai contoh,, peningkatan harga kopi meningkatkan permintaan terhadap teh. Karena kopi dan teh merupakan barang substitusi.

2. Elasitisitas silang negatif. Peningkatan harga barang A mengakibatkan turunnya jumlah permintaan barang B. Sebagai contoh, peningkatan harga bensin mengakibatkan penurunan terhadap permintaan kendaraan bermotor (kedua barang tersebut bersifat komplementer/pelengkap.

3. Elastisitas silang nol. Peningkatan harga barang A tidak akan mengakibatkan perubahan permintaan barang B. Dalam kasus ini, kedua macam barang tidak saling berkaitan. Contohnya kenaikan harga kopi tidak akan berpengaruh terhadap permintaan kendaraan bermotor.

Pengukuran Elasitisitas Silang :

Elasitisitas barang A= perubahan permintaan barang A + Perubahan harga barang B

Permintaan barang A mula-mula Harga barang B mula-mula

Elastisitas silang barang X = %perubahan permintaan barang X

%perubahan harga barang Y

1.2.3 Elastisitas Penawaran (Price Elasticity of Supply)

Elastisitas penawaran adalah tingkat perubahan penawaran atas barang dan jasa yang diakibatkan karena adanya perubahan harga barang dan jasa tersebut. Untuk mengukur besar/kecilnya tingkat perubahan tersebut diukur dengan angka-angka yang disebut koefisien elastisitas harga.

Macam elastisitas Penawaran

1. Penawaran Inelastis Sempurna (E=0)

Penawaran inelasitis sempurna terjadi bilamana perubahan harga yang terjadi tidak berpengaruh terhadap jumlah penawaran. Kurva penawaran sejajar dengan sumbu vertical Y atau P (tingkat harga)

2. Penawaran Inelastis (E1)

Penawaran elastis terjadi jika perubahan harga diikuti dengan jumlah penawaran yang lebih besar

5. Penawaran Elastis Sempurna (E=~)

Penawaran elastis sempurna terjadi ika perubahan penawaran tidak dipengaruhi sama sekali oleh perubahan harga, sehingga penawaran akan sejajar dengan sumbu horizontal (X) atau Q (jumlah output yang ditawarkan).

Faktor yang mempengaruhi elasitisitas penawaran

1. Sifat ketahanan barang

2. Biaya dan kemudahan penyimpanan barang

3. Waktu

4. Sifat alamiah suatu barang

Pengukuran elastisitas penawaran dapat dialkukan dengan menggunakan persamaan berikut:

a. Elastisitas = Perubahan jumlah yang ditawarkan + Perubahan harga

Jumlah yang ditawarkan mula-mula Harga mula-mula

b. Elastisitas = Persentase jumlah yang ditawarkan

Persentase perubahan harga

2. Perilaku Produsen

2.1 Produsen dan Fungsi Produksi

Produksi merupakan konsep arus (flow consept), bahwa kegiatan produksi diukur dari jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan kualitas barang atau jasa yang dihasilkan tidak berubah.

Seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan:

1. berapa output yang harus diproduksikan, dan

2. berapa dan dalam kombinasi bagaimana faktor-faktor produksi (input) dipergunakan.

Kategori Kegiatan Produksi:

• Produksi sesuai pesanan (custom-order production)

• Produksi massal yang kaku (rigid mass production)

• Produksi massal yang fleksibel (flexible mass production

• Proses atau aliran produksi (process or flow production)

Fungsi Produksi

Fungsi produksi adalah model matematis yang menunjukkan hubungan antara jumlah faktor produksi (input) yang digunakan dengan jumlah barang atau jasa (output) yang dihasilkan.

• Fungsi Produksi Total (Total Product):

TP ↔ Q = f(L, K); L = tenaga kerja, K = Modal

• Produksi rata-rata (Average Product): AP

APL = TP/L atau APK = TP/K

• Produksi Marjinal (Marginal Product): MP

MPL = ∆TP/∆L atau MPK = ∆TP/∆K

The Law of Diminishing Return

Dalam teori ekonomi, sifat fungsi produksi diasumsikan tunduk pada suatu hukum yang disebut : The Law of Diminishing Returns (Hukum Kenaikan Hasil Berkurang). Hukum ini menyatakan bahwa apabila penggunaan satu macam input ditambah sedang input-input yang lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik, tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan.

Hukum yang menyatakan berkurangnya tambahan output dari penambahan satu unit input variabel, pada saat output telah mencapai maksimum.

Asumsi yang berlaku:

1. Hanya ada satu unit input variabel, input yang lain tetap.

2. Teknologi yang digunakan dalam proses produksi tidak berubah.

3. Sifat koefisien produksi adalah berubah-ubah.

Analisis yang menghubungkan input dan output,

Q = AkaLb

Keterangan :

1. Nilai konstanta A, a dan b membedakan proses produksi satu dengan yang lain, Menunjukkan teknologi yang digunakan.

2. Nilai a menunjukkan elastisitas input K.

3. Nilai b menunjukkan elastisitas input L.

4. Skala produksi;

• Increasing return to scale, a + b > 1

• Constant return to scale, a + b = 1

• Decreasing return to scale, a + b b (capital intensive) atau a ∆X1.P1 maka penggantian ∆X2 oleh ∆X1 masih menguntungkan. Biaya sudah mencapai minimum apabila ∆X2 . P2 = ∆X1.P1 atau ∆X2/ ∆X1 = P1/P2 atau MRTSX1X2 = P1/P2.

Dengan demikian untuk menentukan kombinasi dua input dengan biaya terendah

diperlukan dua syarat :

• isoquant untuk tingkat output yang dikehendaki dan daya substitusi marginal antara kedua input harus diketahui (syarat keharusan), dan

• daya substitusi marginal dari X1 untuk X2 ( MRTSX1X2) harus sama dengan rasio harga X1 dan harga X2 (syarat kecukupan) atau MRTSX1X2 = P1/P2 atau PMX1/PMX2 = P1/P2 atau PMX1/P1 = PMX2/P2.

Dalil least cost combination ini ternyata berhubungan erat dengan dalil produksi

optimum( dalil keuntungan). Hubungannya adalah sebagai berikut :

∆X2 P1

Least cost combination : —– = —- . Bila sisi kiri persamaan ini dikalikan dengan

∆X1 P2

∆Y

—- persamaan tersebut tidak mengalami perubahan nilai.

∆Y

∆Y ∆X2 P1 ∆Y ∆X2 P1

—- . —– = — atau —- . —– = — atau

∆Y ∆X1 P2 ∆X1 ∆Y P2

PMX1 P1 PMX1 PMX2

——- = —- atau —– = ——

PMX2 P2 P1 P2

Persamaan ini merupakan persamaan dalil least cost combination. Seperti telah dijelaskan di muka bahwa dalil produksi optimum atau dikenal dengan dalil keuntungan adalah :

PMX PMX2 PMXn 1

—– = —– = …….. —– = —

P1 P2 Pn PY

Dengan demikian dalil least cost combination merupakan sisi kiri dari persamaan dalil

keuntungan.

Analisa Perekonomian Indonesia

Suatu bangsa memiliki sistem perkonomian yang berbeda-beda. Sistem ekonomi yang dianut oleh setiap bangsa berbeda-beda. Adanya perbedaan iani dapat didasarkan pada perbedaan dari falsafah dan ideologi masing-masing negara. Untuk itu dalam menentukan bentuk sistem ekonomi maka yang dijadikan kriteria selain dari dasar falsafah negara dan ideologi maka sistem perekonomian suatu negara juga dapat dilihat dari lembaga-lembaga ekonomi negara tersebut.

Sistem ekonomi adalah cara suatu bangsa/negara untuk mengatur kehidupan ekonominya agar tercapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Berbagai permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh semua negara di dunia, hanya dapat diselesaikan berdasarkan sistem ekonomi yang dianut oleh masing–masing negara. Perbedaan penerapan sistem ekonomi dapat terjadi karena perbedaan pemilikan sumber daya maupun perbedaan sistem pemerintahan suatu negara. Sistem ekonomi dapat berfungsi sebagai :

a. Sarana pendorong untuk melakukan produksi

b. Cara atau metode untuk mengorganisasi kegiatan individu

c. Menciptakan mekanisme tertentu agar distribusi barang/jasa terlaksana dengan baik.

Macam-macam Sistem Ekonomi

  1. Sistem Ekonomi Tradisional

Sistem ekonomi yang masih terikat dengan adat istiadat, kebiasaan, dan nilai budaya setempat. Adapun ciri dari sistem ekonomi tradisional adalah :

–         alat produksi sederhana

–         jumlah barang/jasa rendah

–         produktivitas rendah

–         adanya sistem barter

–         kegiatan ekonomi umumnya di bidang pertanian

–         masyarakat sulit menerima perubahan

  1. Sistem Ekonomi Kapitalis

Sistem ekonomi yang memeberikan kebebasan kepada masyarakat untuk memilih dan melakukan usaha sesuai keinginan dan keahliannya. Cirinya adalah sebagai berikut :

–         hak milik perorangan diakui

–         individu bebas melakukan kegiatan ekonomi

–         jenis, jumlah, dan harga barang ditentukan kekuatan pasar

–         adanya persaingan bebas

–         kegiatan ekonomi diserahkan pada swasta

  1. Sistem Ekonomi Sosialis

Sistem ekonomi yang seluruh kegiatan ekonominya direncanakan, dilaksanakan, dan diawasi oleh pemerintah terpusat yang bercirikan sebagai berikut :

–         alat-alat dan faktor produksi dikuasai negara

–         kegiatan ekonomi sepenuhnya diatur negara

–         harga barang/jasa ditentukan pemerintah

–         hak milik perorangan tidak diakui, misal kuba,korea,eropa timur, RRC

  1. Sistem Ekonomi Campuran (Liberal+Sosialis)

–         pemerintah dan swasta bersama dalam melakukan kegiatan ekonomi

–         negara menguasai sektor usaha vital dan mengendalikan perekonomian

–         swasta/perorangan diberi kebebasan untuk berusaha diluar sektor vital

–         pemerintah berparan membina dan mengawasi swasta

–         hak milik perirangan diakui dan penggunaanya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Misal : afrika, amerika latin, asia

Sistem Ekonomi Indonesia

Sejarah perkembangan:

–         1950-1959 (sisetm ekonomi liberal /masa demokrasi liberal)

Pada awalnya Indonesia menganut sistem ekonomi liberal, di mana seluruh kegiatan ekonomi diserahkan kepada masyarakat.

–         1959-1966 (sistem ekonomi etatisme /masa demokrasi terpimpin)

Karena adanya pengaruh komunisme yang disebarkan oleh Partai Komunis Indonesia, maka sistem ekonomi di Indonesia berubah dari sistem ekonomi liberal menjadi sistem ekonomi sosialis.

–         1966-1998 (sistem ekonomi pancasila )

Pada sistem ekonomi pancasila, pemerintah dan seluruh rakyat aktif dalam usaha mencapai kemakmuran bangsa. Selain itu, negara berperan dalam merencanakan, membimbing, dan mengarahkan kegiatan perekonomian. Dengan demikian terdapat kerja sama dan saling membantu antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.

–         1998-sekarang (sistem ekonomi demokrasi yang dalam prakteknya cenderung liberal.

Sistem perekonomian Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 disebut sistem  ekonomi demokrasi. Dengan demikian sistem ekonomi demokrasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem perekonomian nasional yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945 yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah.

Landasan ekonomi Indonesia

UUD 1945 hasil amandemen yang disahkan MPR pada 10 Agustus 2002 yaitu pasal 33 ayat 1,2,3,4 yang memiliki ciri sebagai berikut :

–         Disusun bersama berdasar asas kekeluargaan

–         Cabang produksi panting dikuasai negara untuk kemakmuran rakyat

–         Kebebasan bagi warga negara memilih pekerjaan dan berhak mendapat kehidupan yang layak

–         Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum.

–         Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara

Pada masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia tidak seutuhnya mengadaptasi sistem ekonomi kapitalis, namun juga memadukannya dengan nasionalisme ekonomi. Pemerintah yang belum berpengalaman, masih ikut campur tangan ke dalam beberapa kegiatan produksi yang berpengaruh bagi masyarakat banyak. Hal tersebut, ditambah pula kemelut politik, mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan pada ekonomi negara.

Pada masa pemerintahaan orde baru, pemerintah menerapkan disiplin ekonomi yang bertujuan untuk menekan inflasi, menstabilkan mata uang, penjadwalan ulang hutang luar negeri, dan berusaha menarik bantuan dan investasi asing. Pada era tahun 1970-an harga minyak bumi yang meningkat menyebabkan melonjaknya nilai ekspor, dan memicu tingkat pertumbuhan ekonomi. Reformasi ekonomi lebih lanjut menjelang akhir tahun 1980-an, antara lain berupa deregulasi sektor keuangan dan pelemahan nilai rupiah yang terkendali,selanjutnya mengalirkan investasi asing ke Indonesia khususnya pada industri-industri berorientasi ekspor pada antara tahun 1989 sampai 1997. Ekonomi Indonesia mengalami kemunduran pada akhir tahun 1990-an akibat krisis ekonomi yang melanda sebagian besar Asia pada saat itu,yang disertai pula berakhirnya masa Orde Baru dengan pengunduran diri Presiden Soeharto tanggal 21 Mei 1998.

Saat ini ekonomi Indonesia telah cukup stabil. Pertumbuhan PDB Indonesia tahun 2004 dan 2005 melebihi 5% dan diperkirakan akan terus berlanjut. Namun demikian, dampak pertumbuhan itu belum cukup besar dalam mempengaruhi tingkat pengangguran, yaitu sebesar 9,75%. Perkiraan tahun 2006, sebanyak 17,8% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan.

Indonesia mempunyai sumber daya alam yang besar di luar Jawa, termasuk minyak mentah, gas alam, timah, tembaga, dan emas. Indonesia pengekspor gas alam terbesar kedua di dunia, meski akhir-akhir ini ia telah mulai menjadi pengimpor bersih minyak mentah.

Meski kaya akan sumber daya alam dan manusia, Indonesia masih menghadapi masalah besar dalam bidang kemiskinan yang sebagian besar disebabkan oleh korupsi yang merajalela dalam pemerintahan. Lembaga Transparency International menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke-143 dari 180 negara dalam Indeks Persepsi Korupsi, yang dikeluarkannya pada tahun 2007.

Pada masa Orde Baru, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia diubah kembali menjadi sistem demokrasi ekonomi. Sistem ini bertahan hingga masa Reformasi. Setelah masa Reformasi, pemerintah melaksanakan sistem ekonomi yang berlandaskan ekonomi kerakyatan. Sistem inilah yang masih berlaku di Indonesia. Berikut ini bentuk sistem ekonomi di Indonesia dari masa Orde Baru hingga sekarang.

1. Sistem Ekonomi Demokrasi

Indonesia mempunyai landasan idiil yaitu Pancasila dan landasan konstitusional yaitu UUD 1945. Oleh karena itu, segala bentuk kegiatan masyarakat dan negara harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sistem perekonomian yang ada di Indonesia juga harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sistem perekonomian nasional yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 disusun untuk mewujudkan demokrasi ekonomi dan dijadikan dasar pelaksanaan pembangunan ekonomi.

a. Ciri-Ciri Positif Sistem Ekonomi Demokrasi

Berikut ini ciri-ciri dari sistem ekonomi demokrasi.

  1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama atas dasar kekeluargaan
  2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
  3. Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
  4. Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan untuk permufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijakan ada pada lembaga-lembaga perwakilan rakyat pula.
  5. Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
  6. Hak milik perorangan diakui dan pemanfaatannya tidak boleh bertentangan dengan kepentingan masyarakat.
  7. Potensi, inisiatif, dan daya kreasi setiap warga negara dikembangkan sepenuhnya dalam batas-batas yang tidak merugikan kepentingan umum.
  8. Fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara

b . Ciri-Ciri Negatif Sistem Ekonomi Demokrasi

Selain memiliki ciri-ciri positif, sistem ekonomi demokrasi juga mempunyai hal-hal yang harus dihindarkan:

  1. Sistem free fight liberalism, yaitu sistem persaingan bebas yang saling menghancurkan dan dapat menumbuhkan eksploitasi terhadap manusia dan bangsa lain sehingga dapat menimbulkan kelemahan struktural ekonomi nasional
  2. Sistem etatisme, di mana negara beserta aparatur ekonomi negara bersifat dominan serta mendesak dan mematikan potensi dan daya kreasi unit-unit ekonomi di luar sektor negara.
  3. Persaingan tidak sehat dan pemusatan kekuatan ekonomi pada satu kelompok dalam bentuk monopoli yang merugikan masyarakat.

2. Sistem Ekonomi Kerakyatan

Sistem ekonomi kerakyatan berlaku di Indonesia sejak terjadinya Reformasi di Indonesia pada tahun 1998. Pemerintah bertekad melaksanakan sistem ekonomi kerakyatan dengan mengeluarkan ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IV/MPR/1999, tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara yang menyatakan bahwa sistem perekonomian Indonesia adalah sistem ekonomi kerakyatan. Pada sistem ekonomi kerakyatan, masyarakat memegang aktif dalam kegiatan ekonomi, sedangkan pemerintah menciptakan iklim yang sehat bagi pertumbuhan dan perkembangan dunia usaha. Sistem ekonomi kerakyatan mempunyai ciri-ciri berikut ini.

  1. Bertumpu pada mekanisme pasar yang berkeadilan dengan prinsip persaingan yang sehat.
  2. Memerhatikan pertumbuhan ekonomi, nilai keadilan, kepentingan sosial, dan kualitas hidup
  3. Mampu mewujudkan pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan
  4. Menjamin kesempatan yang sama dalam berusaha dan bekerja.
  5. Adanya perlindungan hak-hak konsumen dan perlakuan yang adil bagi seluruh rakyat.

Kesimpulan :

Sistem perekonomian Indonesia memiliki berbagai macam bentuk sistem ekonomi yang cenderung berubah-ubah. Hal ini dapat dilihat dari sejarah perekonomian Indonesia yang bermula dengan sistem ekonomi liberal, sosialis, kemudian ekonomi pancasila dan demokrasi ekonomi (yang cenderung liberal). Adanya perubahan-perubahan tersebut dapat menunjukkan bahwa indonesia menganut sistem ekonomi campuran. Dimana dalam ekonomi campuran sektor-sektor usaha tertentu akan dinasionalisasikan dan dijalankan pemerintah dan yang lainnya akan terletak dalam lingkup usaha swasta. Terlepas dari sejarah tersebut maka untuk saat ini berdasarkan UUD ’45 sistem ekonomi Indonesia tercermin dalam pasal 23,27,33, dan 34 yang menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia tidak mengijinkan adanya free fight liberalism, etatisme, dan monopoli. Dari perubahan sistem perekonomian tersebut maka sampai saat ini sistem ekonomi yang sesuai dengan jati diri bangsa adalah sistem ekonomi pancasila yang merupakan perwujudan dari falsafah Pancasila dan UUD 1945 berdasarkan ideologi suatu bangsa yang mencirikan suatu perekonomian yang berasaskan kekeluargaan dan kegotongroyongan dari, oleh, dan untuk rakyat di bawah pimpinan dan pengawasan pemerintah.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!